Hallo Mitra Explore

Sudah menjadi pengetahuan umum bagi kita semua bahwa semangat untuk menggiatkan literasi perlu untuk terus di galang. Sebab membaca juga merupakan bentuk kegiatan intelektual dalam memperkaya pengetahuan dan wawasan. Menurut ibu kita Kartini, pahlawan perempuan Indonesia, buku adalah jendela dunia. Oleh sebab itu penerbit merupakan unsur yang paling krusial bagi tersebarnya budaya literasi di seluruh negeri.

Melihat kecenderungan masa kini, dimana era digital sudah menggejala di seluruh dunia dan penerbitan buku juga terpengaruh dengan perkembangan jaman. Tentunya untuk menerbitkan buku cetak memiliki tantangan tersendiri di era digital, tetapi apabila di telisik lebih jauh bisa diperoleh peran penerbit yang tak lekang oleh jaman.

Penerbitan dan pencetakan buku di Indonesia mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa peminat literasi masih tergolong tinggi di Indonesia. Sangat dirasakan bahwa memiliki sebuah buku mendapatkan kesan yang tersendiri di masyarakat. Sehingga kecenderungan pembaca lebih tertarik ke dunia digital di rasa berimbang oleh penerbit.

Kemajuan penerbitan menjadi optimisme tersendiri bagi kalangan pelaku usaha penerbitan dan merupakan hal yang jamak, justru ketika kemajuan era digital terjadi, minat membaca menjadi meningkat dan animo untuk menggemari buku semakin tinggi. Otentitas yang ditawarkan oleh buku tak perlu lagi diragukan, sudah menjadi standar di masyarakat bahwa untuk memperoleh pengetahuan dan wawasan maka harus memiliki buku. Sehingga penerbit juga mengalami kegairahan yang sama untuk tetap bersemangat memberikan pelayanan ke masyarakat di bidang literasi.

Optimisme ini juga diperkuat oleh sejarah penerbitan, dimana bidang ini telah teruji berabad-abad sepanjang jaman. Maka agar optimisme ini tetap terjaga, Explore First Media mencoba untuk mengulas tentang sejarah Penerbitan dan Pencetakan. Diharapkan dengan adanya semangat optimisme yang sama maka didapati sebuah kegairahan yang sama untuk terus menggiatkan literasi.

Sejarah Percetakan

Jumlah buku di Indonesia yang dikeluarkan setiap tahunnya sudah terbilang banyak. Hanya saja dari sisi pembaca atau konsumen masih terbilang memprihatinkan. Berbicara soal buku dan percetakan, ternyata sejarah pada awal mulanya istilah percetakan muncul melalui proses panjang. Tepatnya di abad ke-14 yang lalu percetakan ini baru ditemukan oleh masyarakat China.

Di abad pertama, bangsa China menemukan kertas. Di abad ke-11, lagi-lagi bangsa China menciptakan moveable type dari tanah. Dua tahun kemudian, bangsa Korea tidak mau kalah menciptakan moveable type dari perunggu. Penemuan mesin cetak oleh bangsa China pada waktu itu masih menggunakan simbol tertentu, yang hanya dipahami oleh kalangan mereka. Hal ini menyulitkan beberapa bangsa lain untuk memahami.

Di belahan dunia lain, tepatnya di Eropa, seorang Johannes Gotenberg berhasil menyederhanakan mesin cetak penemuan bangsa China. Kebiasaan warga Eropa sebelum ditemukan mesin cetak, semua informasi ditulis dengan tangan. Menulis satu buku misalnya, dadulu masih ditulis oleh ahli tulis (scribes) di salah satu ruang yang disebut scriptoria yang memakan waktu lebih dari satu tahun. Dari segi waktu, tenaga, dan harga jauh lebih mahal. Tingkat keterbacaan pun juga terbatas, karena metode pemasaran juga tidak terdistribusi tepat sasaran.

Metode percetakan buku dengan cara manual ditulis menggunakan tangan ternyata sudah berlangsung sejak jaman Renaisans. Berawal dari kelemahan menulis scribes, lambat laun terbersit untuk mencetak dengan mesin, yang bisa memproduksi dalam skala besar. Kemudian di tahun 1440, Johannes Gutenberg dari Mainz, Jerman, menemukan cara memproduksi buku massal. Penemuan Johannes terinspirasi dari gesekan uang logam dan arang ketika di atas kertas, yang dikenal dengan cetak tinggi.

Berawal dari sinilah, dari tahun ke tahun percetakan semakin maju berkembang. Tidak hanya negara besar yang mampu membuka bisnis percetakan buku. Negara berkembang dan kota-kota besar pun mulai banyak menjamur bisnis yang satu ini. Berdasarkan catatan IKAPI, di Indonesia terdapat 1.328 penerbit buku. Penerbit paling besar berada di pulau Jawa terdapat 687 penerbit. Kemudian disusul penerbit di Ibu kota sebanyak 504, sisannya dari non Jawa (http://www.ikapi.org/statistik). Dari data tersebut mengambarkan bisnis percetakan di Indonesia berkembang cukup bagus. Dari jumlah penerbit yang terdaftar, mereka memiliki keunggulan masing-masing.

Penerbit Mengarungi Jaman

Kehadiran dan tawaran penerbit buku yang semakin canggih dan mudah, juga memberikan keuntungan bagi penulis. Salah satu keuntungan seorang penulis adalah tidak menunggu terlalu lama. Dalam hitungan hari, bahkan jam, buku sudah siap untuk di distribukan. Dari pihak penerbit juga demikian, tidak merasa terbebani soal waktu penerbitan.

Sebagai penerbit buku bukan berarti bisa berpangku tangan. Mereka memiliki tanggung jawab meningkatkan minat baca masyarakat yang lebih kental dengan bahasa lisan. Perkembangan teknologi juga menantang penerbit akan kredibilitas dan kualitas. Contoh kasusnya, maraknya media sosial dan teknologi semakin menarik masyarakat untuk ketergantungan dengan teknologi, dan mengesampingkan buku. Selain teknologi menawarkan kemudahan, juga menawarkan kepraktisan. Sedangkan buku dianggap membebankan karena harus mengeluarkan uang untuk membeli. Secara waktu, buku harus dibaca dan harus dibawa, tidak seefisien teknologi. Meskipun demikian, hingga detik ini bisnis percetakan buku tetap eksis dan bertahan.

Keberlangsungan bisnis buku cetak beberapa tahun yang lalu sempat diramalkan akan banyak mengalami kemundururan akibat kemajuan teknologi. Kenyataannya, hingga detik ini eksistensi keberadaan buku masih tetap ada. Teknologi yang menawarkan banyak kelebihan, ternyata juga memiliki kelemahan. Yaitu, ketika seseorang membaca di layar ponsel/smartphone/komputer tidak efektif dan kurang maksimal. Sedangkan buku cetak dan surat kabar cetak memiliki tingkat keterbacaan lebih besar. Hal ini disebabkan karena kornea mata lebih nyaman membaca secara cetak. Ketika membaca di layar, kornea lebih cepat lelah dibandingkan membaca tampilan cetak.

Semoga ulasan ini bermanfaat bagi para pembaca dan diharapkan budaya literasi semakin marak di Indonesia, sebab akan berdampak bagi kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan kehidupan yang baik bagi para pelaku literasi. Selamat Berkarya!

Sumber :
http://www.kompasiana.com/evadayat/pengertian-dan-sejarah-percetakan_54f7c70ba33311541d8b4977
https://id.wikipedia.org/wiki/Percetakan
http://www.ikapi.org/statistik
https://penerbitdeepublish.com/sejarah-tentang-penerbit-buku/